tradisi Sadranan desa ngreden 2026
![]() |
| Tradisi Sadranan di desa ngreden 2026 |
Ngreden 2 februari 2026 - ada satu aroma wangi yang selalu menyambut saya setiap setahun sekali memasuki bulan Sya'ban atau Ruwah dalam kalender Jawa. Bukan cuma aroma tanah basah saja,tapi perpaduan wangi bunga mawar, melati, dan kemenyan tipis yang terbawa angin bisa membuat hati teringat kembali. Hari ini, di tahun 2026, langkah kaki saya kembali membawa saya ke Makam Ndepokan untuk mengikuti tradisi Sadranan yang tak pernah absen dari hidup kami: Sadranan.
Kalau dipikir-pikir, zaman sudah berubah drastis ya? Kita hidup di era serba cepat, tapi anehnya, di sini, di bawah rindangnya pohon Kamboja Makam Ndepokan, waktu seolah berhenti berdetak.
Bukan Sekadar Bersih-Bersih Makam
Tadi pagi, sekitar jam tujuh pas saya mau nyekar bapak, suasana sudah riuh rendah. Saya melihat wajah-wajah yang akrab—tetangga masa kecil, sepupu yang merantau jauh, hingga sesepuh desa yang jalannya sudah mulai membungkuk. Kami semua membawa senjata yang sama: sapu lidi dan sabit.
Kegiatan "Besik" atau bersih-bersih makam ini sebenarnya sangat meditatif bagi saya. Sambil mencabuti rumput liar di atas pusara simbah, saya jadi teringat nasihat-nasihat lama mereka. Ada rasa haru yang menyelip; bahwa sejauh apa pun kita melangkah, pada akhirnya kita akan kembali ke tanah yang sama. Bersih-bersih ini bukan cuma soal estetika makam, tapi cara kami "menyapa" mereka yang sudah mendahului.
"Selain tradisi Sadranan yang dilaksanakan sebelum acara kirab gunungan, Anda juga bisa mengunjungi Creator app Hub: wisata religi desa ngreden klaten yang memiliki sejarah panjang."
Momen "Ngumpulke Balung Pisah"
Ada satu pemandangan yang selalu bikin adem di Sadranan tahun ini. Di tengah gempuran gadget dan kesibukan masing-masing, Sadranan jadi ajang "Ngumpulke Balung Pisah"—menyatukan kembali keluarga yang tercerai-berai karena urusan dunia.
Saya sempat mengobrol dengan beberapa teman lama di sela-sela doa bersama. Kami tertawa, bertukar kabar, lalu kembali khusyuk saat tahlil mulai dikumandangkan. Di sini, tidak ada yang pamer jabatan atau harta. Semua duduk lesehan di atas tikar yang sama, menghadap nisan yang bisu, menyadari bahwa di hadapan Sang Pencipta, kita semua cuma hamba yang sedang mengantre giliran.
Kenduri: Pesta Rakyat Kecil
Setelah doa selesai, barulah bagian yang paling ditunggu-tunggu tiba: Kenduri. Di depan saya tadi, berderet tenong dan wadah makanan yang isinya sungguh menggoda iman. Ada ayam ingkung yang bumbunya meresap sampai ke tulang, nasi gurih, hingga sambal goreng kentang yang pedasnya pas.
Yang unik, di tahun 2026 ini, meski banyak dari kita sudah terbiasa pesan makanan lewat aplikasi, rasa makanan kenduri hasil gotong royong warga desa tetap juara.
Tidak ada yang bisa mengalahkan nikmatnya makan bersama di pinggir makam menggunakan alas daun pisang. Ada rasa syukur yang tumpah ruah di sana. Sedekah makanan ini adalah cara kami memohon doa agar para leluhur dilapangkan kuburnya, dan kami yang masih hidup diberi keberkahan.
Kenapa Kita Masih Melakukannya?
Mungkin orang kota atau mereka yang terlalu modern bakal menganggap ini ritual yang melelahkan. Harus bangun pagi, kotor-kotoran, dan masak besar. Tapi bagi saya, Sadranan di Makam Ndepokan adalah pengingat jati diri.
Tradisi ini adalah "rem" dari kencangnya kehidupan digital. Sadranan mengajarkan kita tentang hormat kepada masa lalu (leluhur), peduli pada masa kini (tetangga), dan waspada pada masa depan (akhirat).
Saat saya melangkah keluar dari gerbang makam tadi sore, perasaan saya jauh lebih ringan. Seolah-olah beban pikiran selama setahun terakhir sudah ikut terkubur bersama sampah-sampah daun yang kami bersihkan tadi. Sadranan bukan cuma soal merawat makam, tapi soal merawat kemanusiaan kita.
FAQ: Pertanyaan Seputar Tradisi Sadranan Desa Ngreden
1. Kapan Tradisi Sadranan Desa Ngreden dilaksanakan?
Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada bulan Sapar atau menjelang bulan suci Ramadhan (bulan Ruwah dalam kalender Jawa). Untuk tanggal pastinya, masyarakat biasanya mengikuti penanggalan lokal atau instruksi dari sesepuh Desa Ngreden.
2. Di mana lokasi utama pelaksanaan Sadranan di Ngreden?
Pusat kegiatan berada di kompleks Makam Ki Ageng Perwito, Desa Ngreden, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
3. Apa tujuan dari tradisi Sadranan ini?
Tujuan utamanya adalah mendoakan leluhur (khususnya Ki Ageng Perwito), bersyukur atas hasil bumi, serta mempererat tali silaturahmi antar warga melalui kegiatan pembersihan makam dan makan bersama (kenduri).
4. Apakah wisatawan boleh ikut menyaksikan Sadranan Ngreden?
Tentu saja. Tradisi ini terbuka bagi masyarakat umum maupun wisatawan yang ingin belajar budaya Jawa. Pengunjung disarankan mengenakan pakaian yang sopan dan menjaga etika selama berada di area pemakaman.
5. Makanan khas apa yang biasanya ada saat Sadranan?
Sego liwet, ayam ingkung, serta berbagai jajanan pasar tradisional seperti intip apem dan legondo menjadi hidangan utama yang dibawa warga dengan menggunakan kendil sebagai wadah.
Sampai jumpa di Sadranan tahun depan. Semoga kita masih diberi umur untuk kembali bersua di Ndepokan.

ini kan desa saya Sadranan kemarin memang sangat ramai dan di adakan setiap tahun sekali, semoga ke depan nya tambah ramai.
BalasHapussebelum Sadranan juga di adakan acara kirab gunungan dan haul Ki Ageng perwito.