Keseharian Seniman Ngreden: Dari Ternak Burung Hingga Lestarikan Musik Jadul Keseharian Seniman Ngreden: Dari Ternak Burung Hingga Lestarikan Musik Jadul | Creator App Hub

Keseharian Seniman Ngreden: Dari Ternak Burung Hingga Lestarikan Musik Jadul

Als musik karaoke daerah Klaten

Creator App Hub - Di Desa Ngreden, Wonosari, musik dangdut bukan sekadar hiburan saat hajatan. Tapi bagi para personil ALS MUSIK JADUL, musik cuma buat hiburan saja kalau sedang suntuk di rumah. Di balik suara kendang yang mantap dan tiupan suling yang merdu, tersimpan cerita tentang perjuangan group kami, instrumen yang kami buat juga di upload ke YouTube nama channel nya @Alsmusikjadul

Kadang kalau pagi dan malam hari pas mereka kumpul ditempat nya mas kaca tempat nya di ngenden juwiring Klaten di situ saya sedang berencana untuk membuat lagu yang akan kami upload ke YouTube, saya dan mas podo mulai nyetel alat masing-masing. Di saat itulah, semua beban kerjaan seharian rasanya hilang, diganti sama canda tawa dan alunan nada yang bikin hati tenang. Bagi mereka, dangdut bukan cuma soal panggung besar, tapi soal gimana caranya menjaga hati tetap senang dan persahabatan tetap terjaga lewat hobi yang sama.

Jika Anda berkunjung ke Ngreden pada siang hari, Anda mungkin tidak akan menyangka kalau kami yang sedang sibuk bekerja ini adalah pemain dangdut klasik.

  • Mas Podho (Pemain Kendang): Siapa sangka, tangan yang begitu lincah memukul kendang jadul hingga "bernyanyi" itu, sehari-harinya sibuk beternak burung nama burung nya kenari, lokasi karang ndowo Klaten, Mungkin dari kicauan burung-burung itulah Mas Podho belajar tentang ritme dan ketukan yang alami. Baginya, kendang dan burung adalah dua sisi mata uang: sama-sama butuh perasaan.
  • Mas Totok (Peniup Suling Syahdu): Sebagai seorang pekerja pln dan rumah nya di Karang Delanggu Mas Totok menghabiskan harinya dengan penuh lelah. Namun, begitu suling menyentuh bibirnya, semua penat itu seolah terbang terbawa angin. Sulingnya adalah pelampiasan rasa syukur setelah seharian membanting tulang.
  • Mas Arif (The Keyboardist): Meski saat ini sedang dalam masa pengangguran (mencari peluang baru), Mas Arif tidak membiarkan jemarinya kaku. Di atas tuts keyboard-nya, ia justru punya waktu lebih untuk meramu nada-nada yang ber irama musik dangdut jadul. Baginya, musik adalah harapan yang tetap menyala di tengah masa sulit.
  • Mas Kaca (Visual & Dokumentasi): Kreativitas Mas Kaca tidak hanya di balik lensa kamera. Sehari-harinya, ia adalah seorang penjual kurungan burung rumah nya di desa trasan juwiring. Sebuah profesi yang sangat pas bersanding dengan Mas Podho sang peternak. Lewat tangan Mas Kaca, aksi panggung rekan-rekannya terbingkai abadi seperti kurungan kayu buatannya yang kokoh.
  • MUSIK JADUL seolah mencerminkan kehidupan mereka. Mereka adalah orang-orang sederhana yang tidak mengejar kemewahan, tapi mengejar kepuasan batin dalam bermusik.

Bayangkan saja, seorang peternak burung, pekerja pln, hingga penjual kurungan, berkumpul di satu panggung kecil di sudut Wonosari. Saat instrumen berbunyi, status sosial mereka hilang. Yang ada hanyalah kesetaraan dalam nada.

Kisah mereka adalah bukti bahwa seni tidak harus lahir dari gedung konser yang megah. Ia bisa lahir dari sela-sela pakan burung, di antara debu pekerjaan, dan di tengah ketulusan hati orang-orang desa. ALS MUSIK JADUL bukan hanya grup musik; mereka adalah bukti bahwa di Desa Ngreden, semangat dangdut klasik tidak akan pernah mati selama bapak-bapak ini masih memegang instrumennya.

Kalau kalian mampir ke Wonosari, jangan lupa cari ALS MUSIK JADUL. Rasakan sensasi kendang mantap Mas Podho sambil ngopi sore. Karena musik terbaik adalah musik yang punya cerita."

Tags: ALS MUSIK JADUL, Dangdut Klasik, Desa Ngreden, Wonosari, Kendang Jadul, Local Pride, Seni Budaya.



Posting Komentar untuk "Keseharian Seniman Ngreden: Dari Ternak Burung Hingga Lestarikan Musik Jadul"