Mengenal Budaya Gunungan Desa Ngreden 2026, Uniknya Rebutan Intip Dan Legondo Yang Sarat Makna
NGREDEN, WONOSARI – Desa Ngreden tetap tegak memegang teguh tradisi leluhur sebagai identitas jati diri. Tepat pada hari Minggu, 1 Februari 2026, kemeriahan pecah dalam acara kirab Gunungan dan Haul Ki Ageng Perwito yang menarik perhatian ribuan warga. Saya sendiri beruntung bisa menyaksikan langsung prosesi megah ini tepat di depan rumah saya sendiri.
Filosofi di Balik Tumpukan Hasil Bumi
Gunungan dalam tradisi Jawa bukan sekadar hiasan atau tumpukan makanan. Bentuknya yang mengerucut seperti gunung tapi memiliki makna yang sakral (Manunggaling Kawula Marang Gusti), tentunya memiliki simbol perjalanan hidup manusia menuju Sang Pencipta.
Dalam acara ngalap berkah di Desa Ngreden kali ini, terdapat dua jenis gunungan utama yang diarak:
1.Gunungan Estri (Perempuan):
Biasanya berisi makanan olahan, kerupuk, atau jajanan pasar. Ini melambangkan kesuburan dan hasil dari ketelatenan masyarakat dalam mengolah apa yang diberikan alam.
2.Gunungan Jaler (Laki-laki):
Berisi hasil bumi mentah seperti palawija, sayur-mayur, dan buah-buahan. Ini melambangkan kerja keras kaum laki-laki di sawah dan ladang dalam menafkahi keluarga.
Gotong Royong: Dari Pemuda untuk Desa
Salah satu pemandangan paling menarik dalam dokumentasi acara kami adalah keterlibatan aktif para pemuda. Mengenakan seragam hitam yang melambangkan persaudaraan,keteguhan dan kekuatan, mereka bahu-membahu memikul bambu penopang gunungan yang beratnya bisa mencapai ratusan kilogram.
Keterlibatan pemuda ini menjadi sinyal positif bahwa warisan budaya di Desa Ngreden berjalan dengan baik. Tidak ada jarak antara yang tua dan yang muda, semua melebur dalam tugas masing-masing demi kelancaran acara. "Ini adalah identitas kami. Memikul gunungan ini rasanya seperti memikul tanggung jawab untuk menjaga desa tetap rukun," ujar salah satu peserta kirab yang bernama mas Arif.
Prosesi yang Menggetarkan
Acara dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh desa. Setelah doa dipanjatkan sebagai bentuk izin kepada Yang Maha Kuasa, arak-arakan pun dimulai. Iring-iringan gunungan melintasi rumah-rumah warga, diiringi musik tradisional yang menambah suasana menjadi sakral sekaligus meriah.
Puncak acara yang paling dinanti adalah "Grebeg" atau perebutan isi gunungan di makam nggedong sari. Bagi orang luar, mungkin ini terlihat seperti kekacauan, namun bagi warga Ngreden, ini adalah momen yang di nanti nanti kan untuk "ngalap berkah".
Warga percaya bahwa setiap sehelai sayur atau bungkus makanan yang didapatkan dari gunungan yang telah didoakan tersebut akan membawa kebaikan bagi keluarga mereka.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Selain aspek spiritual, acara Gunungan ini juga membawa dampak positif bagi ekonomi lokal. Pedagang kecil bermunculan di sepanjang rute kirab, dan nama Desa Ngreden semakin dikenal sebagai destinasi wisata budaya di wilayah Klaten.
Kepala Desa Ngreden berharap agar kegiatan ini terus didukung secara rutin. "Kami ingin Ngreden tidak hanya dikenal karena hasil taninya, tapi juga karena kerukunan warganya yang tercermin dalam tradisi Gunungan ini," ungkapnya.
Tradisi ini tujuannya untuk pengingat bagi kita semua bahwa di atas kemajuan desa kami, ada nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas yang harus tetap dijaga.
Mensyukuri atas hasil bumi, doa untuk keselamatan, dan eratnya persaudaraan yang punya lambang tiga pilar membuat Desa Ngreden Wonosari klaten tetap kokoh hingga saat ini.
Semoga tahun depan acara gunungan desa ngreden bisa menjadi tren namanya di seluruh wilayah Klaten.
Di tulis oleh: Mz untung.
.webp)
Dengan bangga menjadi salah seorang warga Ngreden, maka sudah selayaknya kita wujudkan kerukunan dan semangat gotong royong demi tercapainya kemakmuran bersama.
BalasHapusTerima kasih sudah berkunjung ke blog saya,,, memang benar sekali acara gunungan desa ngreden sangat meriah sekali.
Hapusberkah hasil bumi memang luar biasa
BalasHapus